“Klap”

“Klap.” bunyi pintu mobil menutup sopan, mengayun melawan arah angin seraya aku membetulkan posisi duduk di kursi depan.

Jumat siang, 11.42. Sepanjang penglihatanku, kamu hanya memanggul dua tas: Satu ransel kulit tua yang kau tawar dengan sadis di pasar loak bersamaku seminggu lalu, dan satu tas marun berukuran sedang yang aku tebak isinya hanya baju dan stok mariyuana.

Ini ketiga kalinya kamu menengok ke arahku, agak menunduk untuk memberikan celah antara wayfarer dan pandangan mata menghujam yang seakan berusaha meyakinkan. Ini keempat kalinya aku menyuguhkan senyum mungil untuk mengenyahkan ragu yang masih saja bersemayam di otakmu.

Di beberapa belas kilometer pertama, kita sama sekali tak bertukar obrol. Terima kasih untuk playlist dari iPod-mu yang sempurna. Magis, bagaimana lagu-lagu bisa merangkum begitu banyak hanya dalam durasi sederhana. Aku mengangguk dan mencium keningmu di dalam benak setiap kali lagu yang aku suka berkumandang dari pengeras suara.

Di atas empat roda kita melangkahi perbatasan Jakarta. Aku bisa merasakannya menjura di kulitku; sejumput beban, ambisi, kekecewaaan, tekanan dan kotoran kuda kehidupan kota menjangkiti kepala perlahan tersapu seiring mobil ini melaju di akselerasi pasti. Kamu tertangkap basah tersenyum sambil menengok ke arahku, ketika akhirnya kita melewati batas kota.

Aku akan tenang dan terbenam, bilamana  aku sadar ke mana mobil ini akan berlari. Itu dia muara masalahnya; aku tidak tahu ke mana kamu akan membawaku. Terlebih lagi, aku tidak tahu siapa kamu. Yang aku tahu hanyalah ini hari ke-sembilan aku bersamamu, semenjak kita bercumbu hebat di pesta ulang tahun sahabatku. Aku terlalu mabuk dan kau mengenakan kaus putih bersablon sampul Bloodflowers, album The Cure favoritku. Aku bahkan mempertaruhkan kemungkinan bahwa kamu seorang pemerkosa atau pembunuh berantai dengan kemampuan berciuman di atas rata-rata.

Udara kotor Ibukota perlahan digantikan udara segar yang langka aku hirup. Pencakar-pencakar angkuh nan congkak berdiri berubah menjadi bukit hijau raksasa yang menjulang dengan rendah hati.

Dari ribuan hal yang berseliweran di kepala, pada akhirnya hanya pertanyaan-pertanyaan bodoh saja yang terlontar, karena aku terlalu takut terlihat atau terdengar kikuk di hadapanmu.

Mobil melambat, hidungnya memasuki gapura kota kecil yang ternyata menjadi tempat kita berlabuh. Salahkan Pak Samsyul guru Geografi ku dulu, tapi Aku benar-benar tidak tahu kita ada di mana. Tetap, aku masih ingin bersamamu. Semua hal-hal abu-abu yang terjalin ini semakin membuatku ketagihan. Mesin mobil dimatikan. Kedua kaki ditapakkan, di kiri kananku pohon hijau berbaris rapi.

Kamu membuka buku catatan kecil, mengernyitkan dahi selama 4 detik dan menggandeng tanganku ke sebuah ngarai tua di dekat alun-alun kota.

Menyenangkan bagaimana aku perlahan mengenal kamu, dikawal oleh kota kecil ini. Sore datang tanpa diundang, senyum-senyum ramah para lokal mengantarkan kita kepada meja kayu yang bundar dan tua. Kita duduk berhadapan, diwasiti dua gelas lemon hangat dan udara akhir tahun yang menusuk-nusuk manja.

Kita duduk, membahas dunia dan saling bertukar sahut mengenai siapa aku, siapa kamu. Selera humormu adalah jebakan yang tepat, bagi perempuan sepertiku; punya nadi tawa yang terlalu peka. Bila angin malam pun bisa membuatku tertawa, sore itu kamu membuatku terbahak hingga menahan kencing. Diksimu yang kaya berlomba dengan semua hal yang aku suka mengenaimu.

Aku ingin menetap, di tengah-tengah rimba kesementaraan bersamamu. Bagian ini seperti sebuah fragmen, yang tidak ingin aku balik halamannya. Aku ingin membekukan segala spontanitas yang kita sepakati, membingkainya dengan pigura dan membawanya ke ujung dunia. Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu apa yang terjadi setelah ini.

Entah kenapa ketidakpastian ini malah meyakinkan. Perjalanan ini adalah cara terbaik untuk menuntaskan segala macam penasaran yang menjamur. Kamu yang terbaik, adalah kamu yang aku kenal saat ini juga. Begitu sedikit yang aku cerna, dan di dalam waktu yang sama begitu banyak yang aku rasa.

Setelah ini, mungkin saja kamu jatuh cinta dan kita berpacaran. Menjadi pasangan lalu dihujani ekspektasi masa depan, borgol status dan tanggung jawab yang meraja. Mungkin saja aku menjadi gendut atau sangat membosankan, dan malam-malam kita berakhir dalam perdebatan sepele di sebuah restoran, sama seperti pasangan-pasangan menyedihkan yang sering aku hina. Di titik itu, perjalanan ini mungkin akan terasa seperti debu di ujung kuku. Di titik ini. Aku tidak ingin lebih daripada titik ini.

Comments 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s