Tentang Tato

5compress

Suatu siang di 2012 kawan saya, fotografer piawai Feri Latief singgah ke redaksi National Geographic Indonesia bersama dua orang putranya. Sambil merampungkan pekerjaan, Feri membiarkan anak-anaknya bermain di ruangan redaksi. Salah satu putra Feri menghampiri meja saya – saat itu saya masih bekerja di sana – dan mengamati benda-benda yang terpampang di sekitar meja saya. Kubikel saya selalu jadi favorit setiap anak kecil yang mampir ke redaksi National Geographic, karena saya memajang banyak mainan dan memorabilia dari liputan-liputan terdahulu.

Tiba-tiba dia bertanya, “Oom itu apa?” sambil menunjuk ke lengan kiri saya. Yang dia tanyakan adalah tato saya. “Ini tato,” balas saya ringkas dan ramah. “Tato fungsinya buat apa Oom?” dia menimpali jawaban super cepat. Saya terdiam, berpikir sekian detik untuk memberikan jawaban yang sediplomatis mungkin agar bisa dicerna dengan baik oleh anak sekecil dia. Sebelum saya sempat memapar, Feri dengan sigap menyambung sambil terkekeh, “Tato itu fungsinya buat gaya, biar kelihatan keren nak,” ujarnya disambung oleh gelak tawa satu ruangan redaksi. Saya (terpaksa) ikut tertawa.

Setelah menetap di Inggris, saya sering menemui situasi di mana saya harus menjelaskan makna tato saya kepada mereka yang penasaran. Apalagi ketika masuk ke dalam lingkungan baru. Plus, saya Asia, dari negara dunia ketiga. Nampaknya itu membuat tato-tato saya malah terlihat lebih eksotis di mata para yuropia. Di sini, bertato tentunya bukan suatu masalah, dan mendiskusikan (memamerkan bagi mereka yang punya) juga merupakan hal yang biasa-biasa saja. Tapi, saya kerap merasa enggan untuk bercerita mengenai tato-tato saya, kalau tidak benar-benar dipaksa.

Lucunya, hal ini juga baru saya sadari. Saya tidak nyaman ketika harus menceritakan mengenai tato saya. Kawan-kawan di London heran kenapa saya tidak suka membahas mengenai tato-tato yang terajah di kulit saya. Hal itu terus terjadi ketika bertemu orang-orang baru. Selalu pertanyaan yang sama. Bagi para bule, memiliki tato dan menceritakannya kepada orang-orang merupakan satu paket tak terpisahkan. Dari perspektif mereka, itu adalah “bagian dari upaya berekspresi.” Saya (terpaksa) setuju.

Saya sama sekali tidak menyangkal bahwa salah satu alasan kenapa saya memutuskan untuk memiliki tato dulu adalah faktor “keren”-nya. Dan bila seseorang kemudian menanyakan mengenai tato tersebut, hal itu merupakan resiko yang tak terhindarkan. Saya sama sekali tidak menyalahkan mereka yang ingin tahu lebih tentang tato-tato saya.

Hal ini juga lagi-lagi baru saya sadari. Saya punya ikatan yang terlalu personal dengan tato-tato yang ada di tubuh saya. Walau tidak secara langsung tersirat dari tampilannya, hampir semua tato yang saya punya dibuat pada masa-masa sulit di hidup saya. Setiap tato mewakili sebuah fase, yang bagi saya terlalu rumit untuk dibahas atau diceritakan hanya sekadar untuk mengisi perbincangan di bar atau di sebuah pesta. Mungkin ini terkesan cengeng, tapi ketika saya diminta untuk menjelaskan maknanya, saya jadi teringat akan masa-masa tato itu dibuat, yang kemudian mempengaruhi mood saya saat itu. Atau bahkan mood saya hari itu. Atau bahkan minggu itu. Culun ya.

Apalagi ketika bertemu orang baru. Kebanyakan orang bangga akan tato-tatonya, saya tidak. Untuk saya, tato adalah penanda sebuah masa, dibuat dengan segenap keberanian dan sebesit harapan untuk selalu jadi lebih baik. Melihat tato-tato yang saya punya, saya selalu merasa bersyukur ada di posisi saya sekarang, dan semua yang sudah saya lalui di dalam hidup. Fungsinya lebih kepada pernyataan ke dalam diri saya, bukan keluar.

Ketika seseorang punya relasi sedalam itu dengan tato, menganggapnya sebagai sesuatu yang macho, layak dipamerkan, keren atau terkesan berandalan menjadi sangat, amat konyol. Berlebihan, tapi menceritakan tato saya kepada orang terasa seperti curhat. Sedangkan orang-orang lain mungkin membuat tato dalam rangka bersenang-senang, untuk penampilan atau sekadar gaya. Saya sama sekali tidak menganggap orang-orang itu salah atau berusaha merendahkan, hanya saja kami punya sudut pandang yang berbeda.

Seorang kawan dari Italia berkata, “siapkan saja jawaban ringkas, biar cepat.” Dia ada benarnya, tapi sayangnya saya tidak pernah punya jawaban cergas. Mungkin untuk apapun. Banyak orang yang merasa isi kepala saya terlalu rumit ketika harus menjelaskan hal-hal yang terjadi di dalam otak saya. Mungkin itu kenapa saya menulis.

Bahkan untuk hal-hal sederhana seperti; kenapa saya tidak punya Facebook, kenapa saya tidak main Winning Eleven dan sebagainya. Dulu, saya masih bisa menyisihkan energi untuk beradu opini, tapi kini saya pilih untuk tersenyum simpul saja. Anda menang, ketika bisa memilih diskusi mana yang layak diperjuangkan, dan diskusi mana yang lebih baik direlakan saja. Don’t waste your time (and energy obviously) for discussions that are not worth it.

Lagipula, ini sifat buruk saya. Memberikan “nyawa” kepada benda-benda mati. Menyisipkan makna kepada objek-objek dan membuatnya bagian dari saya. Lalu saya akan mengukur loyalitas benda-benda itu kepada hidup saya, dan mulai mengikatnya dengan afeksi. Selalu begitu.

Tulisan ini dibuat dalam rangka untuk mendokumentasikan perbincangan dengan diri saya sendiri mengenai bagaimana saya memandang tato dan apa makna tato bagi diri saya.

(Gambar: “Singodimedjo” – Maryanto Beb)

Comment 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s