Tentang orang tua yang menjadi tua

Sebelum berangkat untuk menetap di London, saya tinggal di rumah orang tua selama tiga bulan. Aneh, karena hampir tiga tahun – delapan bila dihitung sejak bangku kuliah – terakhir, saya tidak tinggal satu atap dengan mereka. Singgah ke rumah mereka hanya untuk hari besar, libur atau sejenak melepas akhir pekan. Saya menetap untuk menyelesaikan detil beasiswa dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Selama tiga bulan menetap, hubungan saya dengan mereka dijejali pertengkaran, argumen alot dan adu idealisme. Mereka dan saya tahu, bahwa saya tidak pernah bisa tinggal lama satu atap dengan mereka. Tujuh hari tanpa saling tukar hujat, bisa dicatat jadi rekor MURI.

Delapan tahun terakhir, saya membentuk gaya hidup dan pola pikir sendiri, tanpa bantuan orang tua. Ketika bertemu dengan pola pikir mereka, cara memandang permasalahan, strategi mencari solusi, gaya berdiskusi, bahkan cara mengupas buah bisa memancing pertengkaran.

Semua formalitas dan kasih sayang kaleng kerupuk yang terjalin antara kami remuk dengan realita bahwa hal-hal substansial yang beririsan dengan pola pikir sudah berubah 180 derajat. Di hadapan mereka, saya seperti alien. Bahkan Ayah benar-benar menggunakan diksi alien untuk mendefinisikan keberadaan saya di rumah. Nilai-nilai yang saya anut bertentangan dengan gagasan dasar hubungan manusia yang orang tua saya ajarkan kepada saya. “Ini karena kamu terlalu lama jauh dari orang tua,” ujar Ibu sambil menahan kesal.

Mereka bilang gaya hidup saya beracun. Saya bilang mereka tidak punya toleransi. Mereka bilang lingkaran sosial saya serupa dinamit. Saya bilang mereka butuh mesin waktu. Mereka bilang saya butuh tidur. Saya bilang ocehan mereka membuat saya mengantuk.

Karena gesekan perspektif yang terlalu signifikan, saya melahirkan paham: tidak baik jika terlalu banyak orang dewasa tinggal di bawah satu atap. Sadar akan apa yang akan mereka tuai, Ayah bersikeras “menarik” saya untuk tinggal di rumah. “Bila itu satu-satunya cara untuk berkomunikasi dengan kamu, biarlah,” katanya. Dengan nada pasrah dan sedih, dia juga bilang, “bila bertengkar adalah pilihan terbaik untuk bicara, maka mari kita bertengkar.”

Tanpa sadar, selama ini saya membina sebuah simbiosis yang aneh dengan mereka. Di mata saya, hubungan kami selalu mengenai bagaimana cara membuktikan bahwa pilihan-pilihan di hidup saya adalah yang terbaik. Membuktikan bahwa cara saya menyelesaikan masalah adalah yang paling ampuh, untuk diri saya.

Tanpa sadar juga, pembuktian-pembuktian ini membuat saya enggan terlihat lemah dan lembek di hadapan orang tua. Sedangkan di mata mereka, saya berubah menjadi congkak karena dicambuk ambisi dan segala pencapaian yang saya raih. Teguh si anak yang sombong dan jumawa.

Jangan salah, mereka membesarkan saya dan dua saudara saya dengan sempurna. Saya cinta mereka. Ayah dan Ibu adalah orang tua yang tegas. Keputusan yang mereka ambil untuk keluarga berdiri tegak bagai pilar baja, tak terganggu badai atau angin taifun sekalipun. Mereka tahu yang terbaik untuk kami, dan mereka mewujudkannya dengan segenap tenaga.

Mata saya terbuka, kini mereka sudah usang termakan usia. Saya bertengger di gerbang menuju fase di mana semuanya perlahan berbalik: kita menjadi dewasa dan orang tua kita semakin renta. Ayah, yang biasanya dominan dan tegas, kini melankoli dan minta dikasihani. Ibu, yang biasanya kuat, disiplin dan tanpa ampun kini lambat dan serba salah, bak barang pecah belah.

Topik ini laris manis saya bagi dengan sahabat yang seusia, setiap kali punya kesempatan untuk bertukar cerita. Sebagian besar dari mereka mengiyakan dan mengangguk setuju. Hampir semuanya punya pemahaman dan pengalaman yang serupa. Tapi mungkin yang lain tak sebrengsek saya.

Menyaksikan orang tua menjadi tua, adalah pengalaman yang sangat amat membingungkan. Khususnya untuk temperatur hati dan emosi. “Nanti saat kamu punya anak, kamu akan mengerti,” ujar Ayah setengah teriak dan menggebrak meja, di perdebatan terakhir kami, beberapa hari sebelum saya berangkat. Kali ini, amarahnya berbahan bakar perih, karena tak sanggup meraih hati dan logika anaknya. Masih dirajai emosi, saya membatu. Diam dan menunggu.

Hingga saat ini, saya masih merasa bodoh. Tidak merasa salah dan segera mengalah.

Comments 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s