Rudi Bomber

Selasa Pahing 22.35, Rudi Bomber berjalan gontai ke arah Warung Tegal dekat perempatan kontrakannya. Kakinya bergerak lambat mendekat, dialasi sendal kulit buatan Koja yang uratnya sudah mulai coak dan tampak jelas menua. Rudi Bomber punya rompi serupa tentara, gaji setinggi pegawai swasta, harga diri setebal hewan bersuaka dan mimpi setinggi nirwana.

Nama bomber hinggap bukan tanpa alasan. Rudi bertahan hidup dengan mengancam hidup. Nama bomber berbanding lurus dengan ukuran tubuhnya, dan cukup “macho” untuk segera dibaptis jadi legenda premanisme. Rudi Bomber tidak ragu poligami, karena turut serta dengan gaya hidup nabi. “Banyak janda korban perang,” sahutnya bangga sambil terkekeh. Seminggu tiga kali dia bercinta asal-asalan, berbekal uang ratusan ribu hasil menagih ruko dan para tionghoa yang tak kuasa.

Di warteg dekat kontrakan Rudi Bomber, Ahmad masih menyisip kopi susu dan mengotak-atik ponselnya. Saat Rudi Bomber mendekat, dia tahu itu saat dia bergegas pulang. Resiko tersedak diambilnya, tahu goreng di atas piring kecil terpaksa Ahmad habiskan sambil melangkah menjauhi warteg. Demi keamanan diri sendiri, pikirnya.

Dengan orang lain, Rudi Bomber berdiskusi dengan pucuk pistol rakitan atau dengan mata pisau lipat. Dia bicara tanpa suara, tertawa dengan sukarela. Jasanya dikenang dengan paksa, dalam rangka uang keamanan atau sekadar asyik-asyikan. Rudi Bomber tak suka mandi karena bau badannya tak mengubah perlakuan orang-orang kepadanya. Hormat dan selalu sigap, walau sudah enam hari pakai kutang yang sama.

Rudi Bomber duduk di bangku kayu Warteg dan terdiam. Bonar sang penjaga warteg kebingungan mau beraksi atau malah bersimpati. Dua jam sebelumnya, pesan singkat dari paman Rudi Bomber, menyumbat pikirannya. “Bapakmu meninggal, sakit jantung.” Singkat, jelas tanpa ba bi bu. Pikiran Rudi Bomber terjerumus ke dalam semangkuk memori-memori masa kecil. Berusaha keras mencari lembaran mana yang patut dipanggil kembali ke dalam ingatannya. Berusaha keras dia mencari momen bahagia, karena sebagian besar memori dengan ayahnya melibatkan memar di dahi atau luka dari sabuk kulit produksi Wonogiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s