Jadi Jurnalis di Indonesia

Kabar tak sedap bertengger di arus laman media sosial saya beberapa waktu lalu. Tabloid Soccer menerbitkan edisi terakhirnya, sebelum akhirnya “terpaksa” tutup usia dan berhenti beroperasi. Sebagai aksi penutup, tim media sosial tabloid Soccer menghelat pesta perpisahan melalui tagar #soccerpamit, mendulang nostalgia dan pengalaman dari pelanggan setia, serta khalayak banyak. Dengan lirih saya mengintip banyak simpati terjurus untuk Soccer, dari pembaca mereka yang terbilang subur dan berkembang.

Saya bukan pegiat bola, apalagi wartawan olah raga, tapi punya memori dengan redaksi Soccer selama kurun waktu 2010 – 2012. Soccer dan redaksi tempat saya dulu bekerja bersemayam di sarang yang sama. Tetangga, tepatnya. Karena redaksi kami letaknya berhadapan, secara otomatis banyak bersinggungan. Kawan baik saya sejak bangku kuliah (tidak saya sebut namanya), juga merupakan bagian dari tim editorial tabloid tersebut.

Saya menyapa kawan saya via pesan teks dan dia menambahkan bahwa kabar buruk ini belum sepenuhnya rampung: majalah-majalah di bawah grup media yang sama akan dilanda tragedi yang serupa. Menyusul Soccer, sekitar delapan majalah lain juga akan undur diri. Sama sekali bukan kabar gembira. Otak saya berputar berjudi dan berspekulasi: Apa karena terlambat beradaptasi dengan kompetisi digital? Model bisnis yang ketinggalan zaman? Terlalu banyak orang tua keras kepala?

Di antara banyak ketidak pastian beredar seputar kabar ini, hanya satu hal yang pasti: Banyak jurnalis kehilangan pekerjaan. Saat kapal sudah mulai karam, para atasan mungkin masih sempat menyelamatkan diri lompat ke kapal sekoci, tapi para pion dan ujung tombak nampaknya tak ada harapan: mereka bahkan tak punya pelampung untuk mengambang di atas air. Kawan baik saya eks jurnalis Soccer kini harus menganggur.

Saya terpancing untuk berpikir banyak tentang kesejahteraan para jurnalis di Indonesia. Jadi sarjana komunikasi dari jurusan jurnalistik di universitas negeri, selama sekitar lima tahun otak saya didandani berbagai artileri profesi kewartawanan, mulai dari kode etik meliput, bagaimana menulis berita, hingga bagaimana cara menyergap pejabat korupsi di pintu masuk Bareskrim. Saya terbutakan dengan sukarela oleh idealisme dan  “doktrin” profesi wartawan, tapi ada satu hal kecil yang esensial dan tertinggal: kesejahteraan.

Masih dibumbui rasa penasaran, saya singgah ke situs Gajimu, website di mana Anda bisa mengakses dan membandingkan upah berbagai profesi di Indonesia, dilengkapi detil informasi yang berkaitan. Survey untuk profesi wartawan diisi oleh 250 praktisi dan lebih dari 8.600 responden dari pelosok Nusantara.

Menurut situs Gajimu, bila Anda baru saja lulus dari universitas dan melamar sebagai wartawan di Indonesia (pengalaman 0 tahun), rentang gaji yang akan Anda peroleh berkisar antara Rp. 2.200.000 hingga Rp. 3.600.000. Saya masih banyak dengar kabar gaji wartawan fresh graduate di Jakarta bisa mulai dari angka serendah Rp. 1.700.000. Di luar Ibukota, ada yang mengangguk setuju untuk dibayar Rp.700.000 perbulan. Sebagai catatan, Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta tahun 2013 adalah Rp. 2.200.000 dan pada tahun 2014 mengalami kenaikan sebanyak 11% jadi sebesar Rp. 2.441.301.

Pic: Screencap dari situs Gajimu.com

Pic: Screencap dari situs Gajimu.com

Bila Anda cukup puas (atau pasrah) dengan angka tersebut dan memutuskan melanjutkan karir sebagai jurnalis, upah standar yang akan terima dalam jangka waktu bekerja selama lima tahun berkisar antara Rp.2.700.000 hingga Rp.5.000.000. Berdasarkan angka tertinggi, dalam lima tahun ada kemungkinan upah Anda akan mengalami kenaikan sebesar Rp. 1.400.000 saja. Kemungkinan.

Pic: Screencap dari situs Gajimu.com

Pic: Screencap dari situs Gajimu.com

Bila Anda masih cukup bebal dan loyal dan meneruskan bekerja sebagai jurnalis, dalam satu dekade (sepuluh tahun) upah yang akan Anda terima ada di kisaran Rp. 3.100.000 hingga Rp. 6.100.000. Berdasarkan angka tertinggi, dalam lima tahun bisa jadi upah Anda meningkat sebesar Rp. 1.100.00 saja. Bisa jadi. Ini berarti, sejak awal Anda lulus dari bangku kuliah hingga sepuluh tahun bekerja sebagai jurnalis, menurut situs gajimu, Anda akan mengalami kenaikan upah sebesar Rp.2.500.000 saja.

Pic: Screencap dari situs Gajimu.com

Pic: Screencap dari situs Gajimu.com

Sebagai perbandingan. Data dari situs payscale.com menyatakan di Inggris gaji rata-rata jurnalis sebesar £24.247 per tahun, atau sekitar £2.000 perbulannya. Saya bisa bilang, biaya hidup layak di London setidaknya £1.200 per bulan atau sekitar Rp. 24 juta.

Pic: Screencap dari situs payscale.com

Pic: Screencap dari situs payscale.com

Optimis akan prospek karir? Visualisasi data dari hasil survey situs gajimu terhadap profesi wartawan di Indonesia menunjukkan sebesar 66% responden – lebih dari setengah – menyatakan tidak pernah naik jabatan. Hasil survey juga menunjukkan bahwa profesi ini tidak ramah gender: 66% jurnalis di Indonesia adalah pria, sisanya wanita. Walaupun di lapangan saya cukup banyak melihat jurnalis wanita, namun nampaknya angka ini cukup lantang.

Pic: Screen grab dari gajimu.com

Pic: Screen grab dari gajimu.com

Usia rata-rata para jurnalis di Indonesia adalah 28 tahun, yang mungkin berkaitan erat dengan rendahnya upah rata-rata. Jam kerja rata-rata profesi jurnalis 41 jam (sehari sekitar 8 jam, Senin – Jumat), yang nampaknya harus saya beri catatan keras jam kerja ini meliputi pertimbangan banyak waktu lembur sukarela menjelang deadline, liputan luar kantor dan jam masuk yang tak terduga – termasuk akhir pekan dan libur nasional.

Pic: Screen grab dari situs gajimu.com

Pic: Screen grab dari situs gajimu.com

Jadi, harus kerja di media yang mana supaya setidaknya sedikit sejahtera? Medio 2013 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menghelat survey gaji wartawan Indonesia, dan merilis hasilnya. Dari daftar nama-nama media yang tercantum bisa mudah terlihat bahwa The Jakarta Post, Bisnis Indonesia dan beberapa nama lainnya punya bandrol yang tertinggi – walaupun masih terbilang rendah di antara profesi lain – dibandingkan kebanyakan media lain. Media televisi atau Online juga ternyata tak menjamin kesejahteraan, walaupun Antara News dan Kompas.com mampu pasang badan di angka menengah. Ketua AJI Umar Idris mengatakan upah ideal wartawan Indonesia dengan pengalaman satu tahun adalah Rp. 5.400.000.

Pic: Screen grab dari situs careercast.com

Pic: Screen grab dari situs careercast.com

Bagaimana wartawan dibandingkan profesi lainnya? Situs profesi asal Amerika Serikat Career Cast merilis 200 daftar profesi mulai dari yang terburuk hingga yang terbaik di tahun 2014. Tebak jurnalis ada di peringkat berapa? Profesi jurnalis ada di peringkat 199 dari 200 profesi. Tukang kayu menempati posisi 200, didaulat jadi profesi terburuk di tahun 2014. Di nomor 198 ada anggota militer dan supir taksi di nomor 197. Di nomor satu ada ahli matematika, dan menempati nomor dua, adalah profesor akademik.

Jadi, secara ringkas itulah realita profesi kewartawanan di Indonesia, dilihat dari sudut pandang kesejahteraan. Saya sendiri tidak pernah menyesal jadi jurnalis di Indonesia, dengan segala dinamika dan keterbatasannya.  Saya berdoa semoga tidak ada mahasiswa jurnalistik yang membaca tulisan ini dan patah semangat lalu memutuskan untuk beralih profesi. Atau malahan tulisan ini menyelamatkan masa depan mereka? Bisa jadi. Ada pepatah di dunia jurnalisme yang berkata “Bad news is good news”, tapi kali ini  nampaknya untuk kesejahteraan para jurnalis di Indonesia, “Bad news will always be, bad news”.

Comment 1

  1. Pingback: Bekerja, (haruskah?) Pakai Hati | tghwcksn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s