Burhan

Perlahan aku menenggelamkan setengah sendok kecil ke dalam teh hangat yang 10 menit lalu aku pesan dari pramusaji. Melebur gula pasir. Cuitan para tamu restoran riuh rendah, seraya sesekali gelak tawa membuncah ke udara. Tidak biasanya Burhan mengirimi aku surel dengan informasi pendek dan gagasan yang jelas.

“Aku lelah mencari-cari makna di antara belantara melodi dan tangga nada. Musik-musik jadi kawan setia tapi alpa telinga. Minggu siang 12.45, di restoran pojok seperti biasa dalam rentang dasawarsa,” ujar Burhan cukup lantang di surel itu,aku baca di Bus Kota arah Megaria. Lengkingan pengamen dengan modal pita suara, pengemis berjudi belas kasihan seketika tersapu oleh pesan singkat yang aku terima.

“Ini anomali,” lanjutku di dalam benak, berusaha mendeteksi.

Burhan tiba tampak tergesa, dia menjulurkan tangan dan langsung duduk, mendaratkan tubuhnya di kursi rotan yang tampaknya buatan asli Jepara.

“Aku tidak mau menjadi sexist,” katanya tanpa ada kontak mata. “Tapi aku menghampirimu karena kamu wanita.” Ini bukan Burhan yang aku kenal. Ada yang bergeser di dalam dirinya. Cetak biru yang baru. Burhan jelas-jelas menghindari interaksi, tapi ada yang berteriak dari dalam dirinya, mengemis makna.

Aku mendengarkannya menjelaskan. Terbata-bata dialasi sedikit rasa malu dan penyesalan. Burhan patah hati, dan tak punya seorangpun yang bisa mengerti. “Aku kesepian di dalam keramaian. Aku butuh lawan bicara yang sepadan, karena semua orang mencerna hanya sebatas permukaan.” Makna yang dia gali, tak pernah bisa terbandingi. Kawan yang melingkari menghibur, menawarkan solusi temporer. Yang Burhan damba hanyalah telinga-telinga yang sabar, sarat esensi.

Lebih mudah saat ada alkohol dan humor-humor bumerang harga diri. Tapi harga yang terbayar, hanya yang punya nilai tukar emosi. Aku tak menyangka, Burhan kini seperti ini. Badai apa yang menerpa hidupnya? Bertahun tanpa komunikasi dan kini dia terdengar seperti manusia seutuhnya. Burhan tidak takut untuk terlihat rapuh, karena dia sadar bahwa itulah satu-satunya cara. Cara untuk berdansa dengan realita, artikulasi kondisi diri sendiri.

Belajar untuk merasa, Burhan seperti seorang bayi. Melafalkan rasa. Sedih dan gembira datang seperti berpesta bagaikan tamu yang tak diundang. Aku tidak tahu apabila “rasa” adalah yang Burhan butuhkan sekarang: hatinya remuk redam beralaskan pedih dan kecewa.

“Aku melaju secepat mungkin untuk melucuti rencana-rencana, mengenyahkan dekorasi masa depan yang kini hanya jadi lelucon belaka,” ujarnya pelan, masih menghindari kontak mata denganku. Aku menutup rapat mulutku, memandanginya tanpa berusaha menghakimi. Aku masih bingung, respon apa yang dia butuhkan sekarang. Akupun tak terbiasa, mendapatinya begitu rapuh dan tak berdaya. Burhan menyelimuti dirinya dengan gol-gol personal, jauh dari emosi dan intimasi. Keadaannya sekarang membuatku kikuk bertindak, ragu untuk menebak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s