Abu

Abu, haruskah aku memujamu?

Waktu yang terbatas, ruas yang terlepas, harap yang tak selaras. Tenggat waktu mungkin menjadikannya terlalu indah, tak terjamah. Kesementaraan terlihat menggoda, abu-abunya mengasah ruang, leluasa menjahit makna. Tanggung jawab jadi nomor dua ketika memori jadi religi, realita jadi anak tiri. Untuk jadi spontan dan bertindak sesuai birama, sudah jadi konsekuensi.

Abu-abu tak kenal aritmatika, yang aku tahu adalah kamu terlihat cantik, seutuhnya. Aku menakar deru napasmu di balik genggamanku, mencaci cetak biru kehidupan yang kamu rancang, kisah indah yang bertengger di ujung kepala. Aku berbenah, membersihkan lantai, memastikannya bersih saat nanti aku harus jatuh terpuruk terjerembab dan hancur berserakan.

Aku menginginkanmu setengah mati, lalu apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s