Isyana Sarasvati: Anomali, revolusi, kompromi?

IMG_3636

Saat Isyana merampungkan setengah porsi pertama aksi operanya malam itu, saya menghembuskan napas lega. Lalu dia memberikan gestur tambahan sambil tersenyum berbisik, “belum selesai.” Dan saya kembali menahan napas, sambil melirik kiri kanan.

Isyana Sarasvati cukup membuat saya berpikir, apa yang dia bawa: revolusi atau anomali? Pemikiran ini menjadi semakin kompleks ketika saya menyaksikan dan “meneliti” penampilannya pada konser rilisan album Explore oleh Isyana, di Energy Building bilangan SCBD Jakarta beberapa saat lalu.

Anak pasangan guru ini punya bobot teknikal di atas rata-rata: menyabet berbagai penghargaan, kompetisi tingkat global, jebolan sekolah musik dinaungi beasiswa, multi instrumentalis dan seorang penulis juga komposer terhadap karya-karyanya. Sekarang mukanya laris muncul di layar kaca, iklan-iklan bersaturasi tinggi dan wajah cantiknya menghiasi di garda depan sebagai brand ambassador atau tokoh utama. Anomali? Tidak juga, tapi ini kombinasi dua hal yang amat jarang ditemukan di Indonesia.

Saya perlahan membentuk persepsi saya terhadap Isyana: mungkin ini malahan sebuah revolusi. Kombinasi antara kualitas dan kemampuan berkompromi dari berbagai dimensi. Isyana Sarasvati tidak menetas ke pasar Indonesia dengan karya-karya operanya, atau hasil dari jejeran penghargaan dan kompetisi yang dia menangkan.

Dia menetas dengan “Tetap Dalam Jiwa”, yang sudah kenyang ditonton penghuni Youtube hingga lebih dari 24 juta kali dan tetap merangkak naik. “Tetap Dalam Jiwa” jelas rimbanya: lagu balada dengan inspeksi melodi yang teliti, hook reffrain yang dengan mudah membius orang-orang untuk “terjebak” menjadi Isyanation – begitu Isyana menamai penggemarnya.

Di negeri ini, tidak banyak orang-orang dengan track record musikal seperti Isyana memiliki views Youtube puluhan juta, atau jadi bintang iklan Tokopedia. Kebanyakan akan menjadi guru, juri lomba musik dan ditemukan di meja yang sama dengan Bens Leo sedang berbincang kritis tentang “masa depan musik Indonesia”. Saya akhirnya hampir tidak punya alasan untuk tidak menyukai Isyana Sarasvati: di atas kertas, wanita ini musisi yang sempurna.

Penonton – yang terdiri dari undangan, awak media dan kawanan Isyanation yang antusias sudah duduk rapi. Lampu memadam, disambut video pendek yang menjelaskan dengan singkat perjalanan Isyana sejak kecil, potongan-potongan permainan piano rumit dan footage penampilannya di banyak panggung internasional. Menegaskan kesan bahwa wanita ini tidak pernah main-main mengasah talenta musiknya. Seorang musisi ranum yang mengenyam banyak asam garam pertunjukkan.

Di 20 menit pertama, Isyana melampiaskan sisi NAFA dan RCMnya. Dengan sangat fasih ia merapel frasa-frasa opera, cepat dan cekatan sambil beraksi diiringi satu orang pianis yang melancarkan serangan nada-nada klasik yang untuk saya cukup mencengangkan. Ini pertama kali saya menyaksikan Isyana tampil, jadi saya sejujurnya tidak tahu apakah ini gimmick yang memang biasanya dia tampilkan, atau disiapkan khusus untuk malam ini saja.

Sebuah sesi yang intens, untuk saya harusnya bisa lebih sederhana dan tepat guna, tapi mungkin gagasan dari sesi ini adalah untuk menampilkan sisi Isyana “yang jarang terekspos” media massa. Saya duduk di belakang, jadi tak bisa menganalisa wajah penonton yang terkesima atau terbengong-bengong melihat pertunjukkan opera dadakan. Sesi ini juga bak pedang bermata dua: Isyana ingin jujur berekspresi, tapi punya potensi menjadi pretentious.

Pertunjukkan bergulir dengan kualitas produksi yang baik, di ruangan pertunjukkan yang sangat mumpuni. Isyana didukung oleh artileri musisi yang canggih, beberapa muka familiar seperti Topan yang biasa beraksi bersama Tulus, lalu Bonar yang juga bermain dengan Andien. Aransemen yang terkadang membuat saya bergidik karena terkadang seharusnya bisa lebih rendah hati (saya tidak bisa menemukan translasi dari frasa ini yang nyaman digunakan). Isyana tampak ingin menyajikan semuanya. Semuanya.

Bagi saya malam itu, satu hal yang paling mengganjal adalah dua penyanyi latar pendukung yang ada di panggung. Dua orang yang tugas utamanya mendukung vokal Isyana, diberikan tugas tambahan melakukan koreografi, jadi juga berfungsi sebagai penari latar. Kualitas vokal yang tidak menonjol, juga pergerakan mereka yang kaku membuat dua penyanyi latar ini malah menjadi bumerang ke set Isyana yang sudah keren. Di sisi lain, satu hal yang menjadi favorit saya adalah hangatnya interaksi Isyana dan para Isyanation. Caranya menyapa dan menyambut Isyanation seperti lagi-lagi menunjukkan sisi lain Isyana yang lebih linear, lebih nyata dan lebih manusia.

Hingga pertunjukkan berakhir, Isyana masih menakjubkan di kepala saya. Apa yang akan terjadi selanjutnya, sungguh saya nantikan. Kalau Anda membaca tulisan ini, sediakan waktu barang sebentar untuk menyaksikan penampilan Isyana. Perdebatan di dalam benak tentang anomali atau revolusi masih berlanjut, mungkin hingga Isyana menggantikan Raisa atau bahkan Ruth Sahanaya.

Comments 2

  1. Kania December 4, 2015

    Dan gw termasuk telat suka lagu doi. Baru sebulan terakhir, gara2 keseringan denger di radio gw jadi meratiin ‘Tetap Dalam Jiwa’ yang ternyata bagus. Lalu gw ulang-ulang terus sejak itu, hahahaa. *okelah, abis nulis komen ini gw dengerin lagi.

  2. sri rahayu January 21, 2016

    PARRAAAAHHH.. makhluk sejenis apa Isyana Sarasvati ini? dr umur 7 tahun cemilannya tuts piano, jadinya ya kaya gitu. nyeraaaahhh. tiap kali liat performancenya saat off air bikin addicted.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s