Tubuhku Otoritasku

2013; Saya ada di ruangan yang sama dengan Kartika Jahja ketika dia merampungkan rekaman lagu Tubuhku Otoritasku, single pertama album MERAH, yang dirilis 11 Maret 2016 kemarin dalam format digital. Tiga tahun lalu saat Tika menuangkan gagasan-gagasan kritisnya  melalui lagu ini, perbedaan sudut pandang terhadap seksualitas dan identitas gender jelas tidak se-semrawut sekarang. Isu gender masih menjadi diaspora di antara mayoritas masyarakat Indonesia, tertumpuk nyaris berdebu (mirip seperti nasib album MERAH yang tertahan rilisnya selama tiga tahun), terhalang oleh gurihnya isu politik dan kroni-kroninya. Media massa tidak melihat isu ini sebagai sesuatu yang seksi untuk digoreng, diekspos atau bahkan untuk dimonetisasi.

Fast forward ke 2016; Kita melaju, ke zaman batu. Indonesia tidak pernah se-terbelakang ini di dalam mengatur dan mewadahi kebebasan berekspresi. Bagi saya ini pedang bermata dua – dinamika ini adalah pelatuk yang sempurna untuk menaikkan transparansi isu gender dan seksualitas, diskusi jadi bergulir dan ronanya semakin nyata, tapi di saat yang sama kita tidak akan pernah punya kesiapan emosional dan kedewasaan budaya untuk menghadapi perbedaan-perbedaan yang memang sudah ada sejak lama. Secara objektif ini perlu. Lebih baik telat dibandingkan tidak ada sama sekali; karena diskusi memantik aksi dan mungkin berakhir menjadi eksekusi, tapi apakah kita benar ada di koridor yang sama?

Masalahnya, ini bukan lagi tentang perdebatan soal harta atau kuasa. Gender dan seksualitas bermukim di wilayah yang paling dasar: Hak Asasi Manusia. Hak untuk diperlakukan sama, hak untuk punya kesempatan yang berimbang, hak untuk jadi diri sendiri tanpa dihakimi, hak untuk tak terpenjara stigma, hak untuk mendobrak pagar nilai yang semena-mena.

Seksime terhadap wanita eksis seperti udara: tak terlihat, tapi terasa keberadaannya. Kita tenggelam di antara norma-norma usang yang ditelan bulat-bulat, kita bahkan tidak melihatnya jadi sesuatu yang menganggu. Wanita di Indonesia selalu terbentur perspektif keliru tentang bagaimana mereka harus menghargai dan mencintai diri sendiri. Lagu Tubuhku Otoritasku berteriak lantang memanggil semua wanita Nusantara untuk menepis anggapan salah dari masyarakat mengenai Gender dan seksualitas. Saya tahu kita terpecah menjadi dua suara yang jauh dengan rentang berbeda. Mungkin Anda kini geram, kesal dan gemas dengan sudut pandang yang teurai di tulisan singkat ini.

Sederhananya: Saya memilih untuk bertengger di sisi yang sama dengan Kartika Jahja. Bersama dengan kolektif Mari Jeung Rebut Kembali, Bersama Project dan Tika & The Dissidents, Sounds From The Corner merilis video musik “Tubuhku Otoritasku”. Video ini menampilkan 34 wanita yang mengutarakan pernyataan untuk mengklaim kembali tubuh mereka untuk menjadi milik diri sendiri. Saya memilih untuk ada di sisi ini, karena ini saatnya kita belajar untuk menerima perbedaan dengan lapang dada, dan sadar bahwa seksualitas, selangkangan dan orientasi orang lain bukanlah urusan kita, apalagi urusan negara.

Comment 1

  1. prayogaluthfy March 12, 2016

    Salut untuk Kartika!

    “Kita melaju, ke zaman batu. Indonesia tidak pernah se-terbelakang ini di dalam mengatur dan mewadahi kebebasan berekspresi.”

    Exactly. Bahkan Indonesia, menurut saya, belum pernah selangkah maju dalam kebebasan berekspresi. Wajah Indonesia, yang terkenal ramah namun ternyata memendam, muncul aslinya karena akses teknologi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s