Primajasa

Di sepanjang hidup, menulis pernah jadi tulang punggung edukasi, cara mencari nafkah dan cermin untuk berkaca. Setelah melaju terlalu cepat tanpa sempat melihat ke belakang, kini Ia saya jadikan sarana berbenah diri.

Saya ingat betul rasanya berdiri menunggu bis Prima Jasa. Melongok tak sabar, berdecak sambil mengamati arloji di tangan kiri setelah puluhan menit berdiri di lidah Tol yang kumuh. Di rentang waktu itu saya tidak pernah tahu, apakah saya sedang pergi atau pulang. Dua kata itu identik dengan rumah yang ternyata definisinya juga masih absurd di dalam kepala. Apakah hari ini Anda mengeri definisi rumah? Saya ragu.

Saya ingat bagaimana saya merumuskannya: Jakarta sebentuk rimba, Bandung terlalu pilu dan Jatinangor sudah terlanjur riuh. Saya ingat menumpuk belasan lagu cengeng untuk membayangi perjalanan Prima Jasa saya, 23 ribu plus gratis 3 jam waktu kontemplasi. Saya suka kombinasi langit biru, aspal abu dan emosi-emosi yang tak terolah. Saya ingat menjadi seorang pemarah, membenarkan ego dan menutup mulut orang sejagat raya

Saya ingat rasanya berteriak membisu, bicara tak kenal aksara. Saya ingat rasanya tertawa bersama segerombolan jiwa-jiwa tak terkekang, menghujat hidup dan menyalahkan dunia. Miskin, putus asa dan bahagia. Ke mana, dirimu yang dulu?

Tak berhenti mencari, tak berhenti mengolah jadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s