Bekerja, (haruskah?) Pakai Hati

Di sepanjang hidup, menulis pernah jadi tulang punggung edukasi, cara mencari nafkah dan cermin untuk berkaca. Setelah melaju terlalu cepat tanpa sempat melihat ke belakang, kini Ia saya jadikan sarana berbenah diri.

prt_500x500_1418488481

Pernah dibuat patah hati oleh profesi?

Jurnalistik dan doktrinnya bekerja ampuh di dalam diri saya karena satu hal: Ia memanjakan ego saya. Ego untuk didengar oleh publik, berbicara lantang dan menjadi perkasa melalui kata-kata. Yang tidak pernah disadari adalah sebesar apa ego dan emosi berperan dalam membentuk persepsi saya terhadap profesi.

Di bangku pendidikan, nilai-nilai terhadap profesi diajarkan bak doktrin menyengat yang mengaburkan realita. Saya mengenyam pendidikan jurnalistik, baik sarjana dan paska sarjana. Pesan yang digaungkan, pewarta berita adalah profesi mulia, berbanding lurus dengan pahlawan super yang membela masyarakat, berpedoman kepada kebenaran. Mungkin hal itu disuntikkan dalam rangka mengecoh fokus bahwa profesi ini tidak diupah semestinya, penuh resiko dan tidak ideal untuk dijadikan sandaran keluarga.

Mirisnya, saya telan bulat-bulat doktrin itu. Keluar kampus, melihat standar upah wartawan fresh graduate di lanskap media lokal, doktrin kampus jadi obat pahit yang (terkadang) menyembuhkan. Jurnalis tak lebih dari “karyawan” dari perusahaan yang punya kebutuhan ekonomi, dan berita tidak lebih dari sekadar komoditi. Terlalu muluk untuk jadi Nachtwey atau Hemingway, ketika dompet sudah menipis di minggu kedua.

Walaupun kini bekerja di perusahaan teknologi, namun sampai detik ini saya masih berpikir bahwa saya adalah seorang jurnalis. Toh, pola pikir itu tidak sepenuhnya salah. Saya ingat mewawancarai maestro kuliner Bondan Winarno untuk National Geographic. Katanya, “Hingga saat ini saya masih bekerja seperti seorang jurnalis. Cara saya mengamati, mengemas dan menampilkan informasi, masih dalam cakupan kegiatan jurnalistik. Skill tersebut akan selalu relevan,” papar mantan jurnalis investigatif yang kini menuangkan waktunya ke dunia kuliner Nusantara. Dalam hati, saya mengamini.

Saat secara komprehensif profesi saya memenuhi kebutuhan emosional, dengan sukarela saya memberikan 110% untuk bekerja. Di situ juga saya menginvestasikan perasaan untuk ditaruh di lingkup pekerjaan, yang seharusnya hanya dalam batas aman profesional saja. Hal ini bekerja bak pedang bermata dua. Di satu sisi, menghasilkan performa sangat baik tapi di saat yang sama , bekerja menggunakan hati, kekecewaan skala biasa terasa seperti putus cinta. Bekerja pakai hati, harus siap patah hati.

age_01_2

(Ross McCampbell)

Ambisi jadi seperti kutukan, karena saya terkadang berharap bisa bekerja hanya dilatar belakangi alasan orang kebanyakan: memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya bertemu kawan yang memperlakukan pekerjaannya hanya sebagai cara mencari nafkah, ketimbang sebagai “panggilan hidup, misi, ambisi, impian” dan hal-hal lain yang mengaburkan batasan personal-profesional. Strategi itu rasanya lebih aman, melihat seharusnya hidup jauh lebih berwarna dari mengais nafkah.

Dipicu oleh kejadian-kejadian terkait, saya sadar bahwa selama ini saya “bersembunyi” di balik profesi. Menaruh harga diri dan menyembunyikan rasa insecurity terhadap diri sendiri, di balik profesi. Dengan cara saya dibesarkan dalam keluarga suburban kelas menengah, pekerjaan dijadikan cermin untuk mengidentifikasi berbagai hal: status, harga diri, kepercayaan diri, termasuk rasa nyaman terhadap diri sendiri. Kumpulan kebutuhan esensial bercokol dan berporos di dalam karir, membuat sektor ini sangat amat rapuh dan sensitif di dalam diri saya sendiri. Begitu dimensi profesi terganggu stabilitasnya, hancur lebur juga rasa aman di dalam diri sendiri.

Dan untuk merampungkan:beberapa pemahaman baru yang menyeruak ke dalam isi kepala.

1. Bekerjalah untuk memantik gegar hidupmu yang penuh rona, bukan sebaliknya.

2. Uang, adalah solusi dan masalah di saat bersamaan. Uang adalah obat dan penyakit di dalam wadah yang sama. Tapi yang terpenting: Ia adalah jembatan, bukan tujuan.

3. Energi dan investasi terbesar seharusnya diberikan kepada manusia, karena itulah hal terakhir di dunia yang membuat kita merasa jadi seutuhnya. Loyalitas tidak seharusnya diberikan kepada benda mati. Jangan mengharapkan cinta dari benda tak bernyawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s