Satu Nyawa Dengan Senyawa

img_1706

“Katakan padaku, hai tukang kayu. Bagaimana caramu menebang kayu.”

Bersama beberapa nomor lagu anak lainnya, “Hai Tukang Kayu” berkumandang, menyambut dan mengiringi penonton mencari kursi – beberapa saat sehabis gong tanda pertunjukkan dimulai menggelegar di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis 22 Desember 2016. Pada awalnya saya bergidik, merasa kikuk dikawal nada-nada ceria ini namun setelah sesaat tampaknya lagu-lagu ini sengaja dimainkan sebagai latar musik yang menetralkan indra-indra yang terkikis habis, digempur sajian utama.

Walaupun beraksi sejak enam tahun lalu, banyak bola mata terarah ke arah Senyawa dua tahun terakhir, kombinasi yang sempurna: rantaian proyek residensi luar Nusantara, panggung-panggung bergengsi skala global dan sorotan media pelosok dunia. Dunia kreatif Indonesia nampaknya punya tabiat tidak sehat yang kita semua benci untuk mengakui: keberhasilan di panggung global seringkali mendulang puji puja di level lokal, tapi tidak pernah sebaliknya. Musik, film, seni kontemporer dan gaya busana jadi sektor-sektor yang “jadi korban” tabiat ini. Mungkin ini rona khas dunia ketiga, saya tidak tahu.

Yang pasti saya tahu, penonton diam seketika ketika Patrick Hartono menempati bangku di atas panggung, resmi seperti ingin memimpin rapat RT. Seniman multi-disiplin asal Makassar yang tinggal di Den Haag melakukan tugasnya dengan baik: memberikan konteks, membentuk ekspektasi dan menghantarkan penonton untuk ada di frekuensi yang sama untuk bisa mencerna Senyawa.

Narasi yang Hartono bangun terdiri lapis bebunyian liar yang terukur, ditimpali visual yang intens. Saya teringat Daniel Lopatin (Oneohtrix Point Never) atau Keith Whitman, dalam format yang lebih santun. Hartono menjembatani musik dan aritmatika melalui geometri: “Kedua hal ini punya keterkaitan yang menarik untuk disimak,” ujarnya sebelum menghajar telinga dan mata semua orang dengan karya penutupnya.

Lagu anak-anak kembali menyeruak untuk menjembatani sesi, sebelum akhirnya dua bayangan perlahan muncul disiram oleh sinar kuning di balik kain putih. Penonton kelewat khidmat, riuh tepuk tangan penyambut terlewat namun nampaknya tidak jadi masalah.

Sejak Vincent Moon mengabadikan “Calling new Gods” di Yogyakarta hingga Senyawa sepanggung dengan Justin Vernon, Rully dan Wukir konsisten membuat porak poranda definisi musik kontemporer. Leburan musik Senyawa membuat duo ini diakui di banyak medan: arena world music, festival musik Independen, ranah noise, tradisional, seni kontemporer hingga bisa membuka Death Grips di Polandia

img_1727

Saat banyak musisi cutting edge  Indonesia berusaha terlalu keras terdengar seperti idola mereka di “dunia Barat”, Senyawa mencuri perhatian dunia dengan kemasan orisinil yang melampaui batas interpretasi musik populer. Teori usang, yang bagi saya akan selalu lestari.

Rully Shabara medefinisikan ulang elemen vokal, yang secara tradisional biasa ditempatkan sebagai bambu runcing, jadi punya daya ledak sama dengan instrumen musikal. Eksplorasi napas, desis dan olah diafragma Rully menghasilkan variasi vokal impresif berstamina tinggi. Di sisi lain, Wukir Suryadi menciptakan instrumen yang bisa memproduksi bebunyian ritmik dan melodik di saat yang sama. Ditambahkan dengan hempasan vokal, keleluasaan dari instrumen ini memberikan Senyawa ruang untuk mengobrak-abrik emosi pendengarnya. Musik yang tercipta sensitif, rapuh, marah, perkasa, indah, modern dan primitif di saat yang sama.

Di salah satu wawancara yang Rully Shabara lakukan di 2015 dengan sebuah kolektif seni di Jepang, dia mengaku Senyawa tidak memainkan musik avant garde, eksperimental atau tradisional, namun merupakan interpretasi musik Metal versinya. Sudut pandang ini menarik untuk ditinjau, karena pendekatan ritmik yang diciptakan oleh Wukir memang terkadang mengadopsi cetak biru musik Metal. Berbalut distorsi dan penjiwaan, kombinasi semua hal tersebut jadi senjata mematikan yang membuat semua orang jatuh hati. Muatan lirik juga dieksekusi dengan pendekatan eksperimental yang sama, membuat Senyawa tak hanya berbahaya dari segi musikal, namun juga menyerukan pesan tematik konkret yang relatif mudah dicerna.

Set pertama banyak dipersenjatai instrumen “Bambu Wukir”, menghantarkan beberapa lagu favorit saya. “Kereta tak berhenti lama” dan “Jaranan” dari album Acaraki (2014), jadi salah dua yang menyangkut di kepala hingga sekarang. Instrumen baru mereka “Garu” dipamerkan di set kedua, juga spatula bersenar yang diberi nama “Suthil”. Garu – Alat musik serupa bajak kayu ini menghasilkan suara yang lebih grande, namun berkonsep sama: dimainkan multi teknik (petik, gesek, tabuh) dan menghasilkan banyak bunyi. Pendekatan Wukir dalam menciptakan instrumen musik membuat Senyawa menjadi band yang aseksual: susah dikategorisasi, namun mudah menjangkau hati.

Konser Tanah Air jadi penutup 2016 yang sangat berkesan. Angkat topi juga untuk tim G-Production yang berhasil menyuguhkan kualitas penampilan dan servis yang ciamik. Musik Rully dan Wukir merupakan contoh kasus langka di Indonesia: Tidak sulit untuk menikmati keindahannya, namun sulit untuk menjelaskan apa musiknya. Bebunyian yang sederhana namun kaya, membuat satunya-satunya pilihan yang tersisa hanya pasrah dan bahagia jadi satu nyawa dengan Senyawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s