Opini Anda Tidak Penting

Polarisasi yang dibentuk media sosial jadi jurang pemisah berujung perpecahan. Komentar Anda jadi bahan bakarnya. Kesadaran individu mungkin bisa jadi obat penawar.

Disclaimer: Tulisan ini tidak dibuat untuk menjelaskan siapa yang benar, atau salah. Referensi Alkitab di tulisan ini juga dimasukkan murni sebagai referensi, bukan untuk membubuhkan bias agama.

Bangsa Indonesia sudah sadar betul bagaimana kekuatan media sosial sebagai corong kebebasan berekspresi. Luwesnya media sosial digunakan dalam konteks pembicaraan apapun, namun seringkali yang menuai kontroversi tidak jauh-jauh dari: Politik dan agama. Sedihnya, oleh pihak tertentu kedua hal itu dicampur adukkan. Hasilnya luar biasa: ada yang meraih tahta, ada yang dipenjara.

Tahun 2017 saya diminta menjadi juri Anugerah Adiwarta, penghargaan tertinggi PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) kategori media siber. Tim juri terbang ke Ambon menghadiri malam penghargaan. Malam itu semua petinggi media nasional bersabda dengan topik sama: Hoax, hoax, hoax, hoax dan hoax. Dalam bijaknya sambutan, pidato kehormatan dan lain sebagainya hoax dijadikan tema oleh para pejabat media. Topik yang aman, terkesan relevan tapi cukup makro untuk dijadikan basa-basi.

Namun, ada satu fakta yang nampaknya tertinggal: hak pemberitaan tidak lagi terbatas untuk perusahaan media. Di era 90an, perusahaan media “memonopoli” hak pemberitaan karena terbatasnya medium informasi. Kemewahan itu tinggal sejarah, karena digitalisme mengaburkan batasan tersebut. Hak terhadap informasi kini sama rata, selera publik terhadap informasi jauh dari faktor kredibilitas, kebanyakan orang mengonsumsi berita yang selaras dengan ideologi mereka. Di luar itu, #fakenews. Contoh kasus paling ideal adalah realita bentukan Donald Trump via akun Twitternya.

Di pertengahan 2017 kasus Saracen menyeruak, tentunya Anda dengar. Sindikat Saracen sukses diberangus, namun pola konsumsi media di Indonesia terlanjur sporadis. Tidak lagi didominasi oleh media kredibel, pola konsumsi infomasi kini dibentuk oleh entitas-entitas misterius seperti Lambe Turah, Digembok, dan lain sebagainya. Kondisinya kini terbalik, media konvensional malah mengemis dan mengikuti info dari akun anonim, membantu mendistribusikan informasi berharap relevansi publik kembali ke tangan mereka.

Akun anonim yang menunggangi bendera politik dan agama sangat beracun, menggalang opini, menaikkan gambar palsu hasil edit, artikel fitnah dan mendistribusikannya secara masif. Rentetan berita palsu digunakan untuk masturbasi ideologi di panggung media sosial. Hasilnya, bisa Anda saksikan di halaman Facebook atau grup Whatsapp keluarga. Orang-orang dengan kewaspadaan minim seputar verifikasi media (seperti orang tua Anda, contohnya) pada akhirnya mencerna berita tanpa perlawanan sedikitpun.

Bagi saya hal ini hanyalah sebatas tatanan fenomena, sampai saya mengalaminya sendiri menjadi “korban” cyberbullying. Di akhir tahun 2017 akun anonim ekstremis Islam Anti Jokowi mempublikasikan foto saya dengan informasi dan konteks yang 100% salah. Mencermati kejadian ini, bukanlah postingan palsu ini yang menjadi highlight saya, namun bagaimana orang-orang bereaksi dan beropini terhadap postingan tersebut. Bersembunyi di balik jempol dan layar telepon, hujatan yang melayang ke arah saya benar-benar fantastis: mencantolkan orientasi seksual, ras, bahkan intelektualitas dengan sangat mudah. Berkedok status anonim, banyak orang yang menanggalkan akal sehat dan jadi binatang.

Ada di posisi tersebut, saya sadar keabsurdan dan polarisasi opini ini sengaja dikendarai oleh pihak tertentu. Ada kelompok yang ingin memupuk kebencian berbekal media sosial, meruncingkan perbedaan untuk dijadikan alat konflik. Tujuannya apa? Mungkin bekal menuju 2019.

Bagi siapapun yang mengendarai polarisasi ini, gol akhirnya bukan menyatakan siapa yang lebih benar, namun mengedepankan perbedaan agar mencolok dan dijadikan instrumen politik. Media sosial dijadikan instrumen utama, dipersenjatai berita tanpa kredibilitas. Apa nilai tukarnya? Opini Anda.

Saya tidak tertarik memberi tahu apakah opini Anda benar atau salah. Saya juga mengerti bahwa di era kebebasan berpendapat, semua orang berhak mengemukakan buah pikirannya. Masalahnya, kita hidup di era di mana pendapat apapun di media sosial yang punya unsur politik dan agama bisa dipastikan berkontribusi terhadap potensi perpecahan. Pendapat yang dibekali pemahaman empirik, sampai komen alay paling tolol sekalipun, apabila tujuannya untuk mengekspresikan topik politik atau agama pada akhirnya berkontribusi terhadap perpecahan yang terencana.

Apakah lalu diam jadi solusinya? Tidak, saya tidak minta Anda stop beropini. Yang saya sarankan evaluasi, monitor dan kurasi informasi dan pendapat Anda di media sosial. Tidak ada benar atau salah, namun gunakan hati nurani (dan bekal edukasi) Anda untuk memutuskan.

“Perlukah saya berkomentar?”

“Haruskan saya bagikan/teruskan informasi ini ke orang lain?”

“Apakah info ini benar dan terverifikasi?”

“Apa dampaknya kalau saya komentar di dalam post ini?”

“Siapa yang akan dirugikan dengan komentar saya?”

“Mantra-mantra” ini tidak hanya berlaku untuk mereka yang dikategorikan “bodoh” dan tak terpelajar. Bahkan orang terpelajar sedikitpun seringkali terbawa ego dan emosi untuk berusaha memberi tahu orang lain. Paragraf panjang dengan penjelasan komprehensif diluncurkan untuk memberi tahu bahwa orang di seberang sana salah. Biasanya, lawan bicaranya yang tidak “sepintar” mereka akan berkilah, bermain kata-kata yang akhirnya malah membuat si terpelajar jadi semakin terbakar amarahnya.

Akses sama rata di media sosial membiarkan kita berpikir bahwa opini kita penting dan orang-orang harus mendengarnya. Nyatanya, opini saya, Anda, mereka tidak sepenting itu. Memperjuangkan ideologi idealnya dilakukan dengan aksi di dunia nyata.

Analogi yang mungkin bisa membantu. Dalam ajaran Nasrani, ada satu kisah di Alkitab. Yesus dihadapkan situasi di mana dia menemukan seorang wanita yang berzinah yang akan diadili dengan dilempari batu. Lalu di atas tanah dia menuliskan Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu” Orang-orang tidak berani menghakimi lalu pergi dan Yesus membiarkan wanita tersebut pergi.

Tanpa ingin terdengar Nasionalis, saya meyakini bahwa perpecahan atau persatuan bukan ada di tangan pemerintah, media, atau badan hukum nasional. Perpecahan atau persatuan ada di tangan dan jempol Anda masing-masing. Literally.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s